"Teteh mau cepet dapat jodoh? Itu motor dijual aja," lelaki dengan tubuh gemuk menunjuk motor merahku di luar rumah yang kami kunjungi. "Pasti nanti langsung dapat jodoh. Percaya, deh."
Aku terdiam. Dalam hati kebat-kebit. Semua konsep yang kupelajari dari SD hingga kuliah di Fakultas Psikologi tidak mengizinkanku memikirkan apa yang disarankan salah seorang teman dari komunitas bisnis yang baru kukenal itu. Bagiku, berbagi itu harus ikhlas, jangan demi meminta sesuatu, apalagi meminta jodoh. Titik. Tak ada perdebatan. Hampir tiga puluh tahun aku hidup menjomblo bukan karena aku kurang ibadah. Tapi ya ini adalah takdir Allah.
Tak lama, aku dapat jodoh lalu menikah, alhamdulillah. Anehnya, Allah memberikan seorang suami yang 'ahli berbagi'.
"Umi, kalau kita berkunjung ke rumah kawan, ya harus bawa sesuatu."
"Umi, kalau memberi kepada orang jangan tanggung."
Suamiku suka berbagi, katanya dulu malah waktu belum menikah dia bahkan berikan semua uang yang ada di kantongnya.
"Jangan bergantung pada rezeki yang ada di kantong kita. Bergantunglah pada kebaikan Allah."
Dan katanya, biasa setelah itu dapat rezeki yang tak pernah disangka-sangka.
Kalau aku? Kadang percaya kadang tidak. 😆😆😆
Hanya memang terasa ada yang berbeda, uang sering kali datang tanpa disangka-sangka sumbernya.
Satu hal yang paling membekas ketika suami mau pergi ke luar kota, sedangkan di kantongnya hanya ada uang sebesar 50.000.
"Abi mau buktikan ke Umi, kalau dengan berbagi itu artinya kita sedang bertransaksi dengan Allah." Ia lalu naik sebuah kereta kuda.
"Abi mau buat seneng Anna," jelasnya sambil menggendong anak kami yang baru berusia dua tahun. "Sekalian sedekah sama kusirnya."
Di dalam kereta suami mengajak kusir mengobrol, rupanya untuk berbisnis kereta kuda itu tidak murah. Harus beli kuda yang harganya tak murah, puluhan juta. Mereka harus menggadaikan sawah, atau menjual tanah. Setelah itu harus menjaga dan memelihara kuda-kuda itu. Tiap Sabtu-Ahad pergi ke kota (dari pingggiran kota karena kuda tidak bisa tinggal di kota), dan di hari Senin-Jumat biasanya jadi delman yang mengantar-jemput ibu-ibu dari dan ke pasar.
"Pemasukannya berapa setiap hari?" tanya suami.
"Ya, kadang 15.000 kadang 30.000."
"Kalau di sini?"
"Ya, kalau di sini kadang besar kadang nggak. Tergantung musim."
Lalu seselesainya kami berjalan-jalan naik kereta kuda, suami memberikan semua uang yang ada di saku.
"Sisanya untuk Bapak saja."
Kusir itu terbengong dan berkali-kali berterimakasih.
"Abi yakin gak mau bawa uang?" tanyaku pada suami. Sebelumnya dia sudah memberikan uang untukku dan Anna.
"Kan, Abi pergi sama kantor. Semua ditanggung," jawabnya.
Lalu tak lama, setelah suami sudah pergi, ia mengirimkan sebuah pesan.
"Mi, diterima, ga?" Ia memberikan sebuah
screenshoot percakapan. Isinya adalah tawaran pekerjaan untuk mengisi suara sebuah
audiobook yang nilainya adalah tiga juta rupiah.
Masya Allah, Maha Besar Allah.
Mungkin, itu adalah cara Allah untuk mengubah pendirianku yang keras akan sebuah konsep sedekah. Allah mengajariku perlahan melalui suami. Bak batu karang yang digerus air laut.
Berbagi tidak akan mengurangi harta kita. Dengan berbagi kita tidak sedang pamrih, meminta balasan. Justru kita sedang bergantung kepada Allah, kita sedang membeli rahmat Allah dengan seikhlas-ikhlasnya. Dan rahmat Allah itu bisa berupa apa saja, apakah rezeki yang tak pernah henti, anak yang saleh/salihah apa saja. Tentunya sesuai dengan kebutuhan. Siapa sih yang lebih tahu kebutuhan kita selain Allah?
Pada tahun 2017, aku membuat sebuah komunitas menulis. Namanya WrC, singkatan dari
writing Challenge. Yaitu sebuah tantangan menulis status selama tiga puluh hari dengan memberikan
like dan komentar. Tujuannya agar pada pebisnis
online menyadari bahwa 'meramaikan' status pebisnis lain itu adalah bagian dari berbagi. Memajukan usaha sesama. Selain itu bagi para penulis sangat baik untuk meningkatkan personal branding.
Ada tujuan lain sebenarnya, aku ingin memberikan banyak Emak-Emak kesempatan untuk menghasilkan ilmu dari bisnis tulisan. Jadi nanti teman-temanku bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari kegiatan wrc, karena ini berbayar, meskipun bayarnya suka-suka.
Komunitas ini, aku bangun untuk sebuah hibah. Rasa terimakasih kepada Allah yang sudah membuka banyak jalan pikiran yang biasanya membeku karena logika. Padahal islam tidak hanya membutuhkan logika dalam memahaminya, namun juga YAKIN.
Namun, pada perjalanannya aku hilang kendali, ada rasa ingin memiliki.
"Ini kan aku yang ciptain, aku yang gedein." Aku semakin sombong karena orang-orang banyak yang mengatakan aku jenius membuat konsep ini. Banyak orang yang mengatakan bahwa wrc sangat bermanfaat.
Lalu ketika aku berada di atas angin. Aku jatuh terpuruk. Allah sedang mengujiku ....
Apakah aku bersungguh-sungguh dengan niatku ....
Air mata yang jatuh tak sebanding dengan pelajaran yang kudapatkan. Aku semakin kaya. Kaya akan rasa dan hikmah. Semua yang ada di dunia adalah milik Allah, apa pun. Pada tahun 2018 aku serahkan kembali komunitas yang memang dibuat untuk hibah. Meski masih tetap mengamati.
Di awal tahun 2019, aku dan suami sudah benar-benar melepaskan. Melepaskan sebuah komunitas menulis yang saat itu sudah beromset lebih dari 20 juta.
Alhamdulillah
Berat, tapi aku ikhlas.
Banyak setan berbisik kepadaku. Mengatakan betapa bodohnya aku. Aku diam bertanya kepada Sang Khalik, ia menjawabnya dengan semakin pintarnya anak kami. Einar Delanna Agharid yang baru berusia empat tahun, ia meminta untuk tidur di kamar sendiri.
Masya Allah ... Allahu Akbar!!!
"Bi, makanya zaman dulu banyak yang pengen jadi guru, ya. Karena anak para guru diajarin sama Allah."
Proyek-proyek berdatangan. Meski tidak dalam jumlah besar, kami syukuri.
Alhamdulillah.
Dan terakhir, selama 13 tahun penantian, naskahku dilirik penerbit mayor. Padahal pada pertengahan tahun 2018 aku sudah menyerah mengirimkan naskah pada penerbit mayor. Semua naskah yang kukirim sudah ditarik kembali.
Alhamdulillah. Banyak pembelajaran yang kudapati, semua akhirnya kusadari bahwa, tak ada yang abadi di dunia. Kita akan terus-menerus diuji oleh Allah, untuk memberikan hal-hal terbaik yang pernah dimiliki, yang pernah dicapai. Hingga akhirnya menyerah kepada ketentuannya. Ketentuan TERBAIK. Itulah makna berbagi bagiku, berbagi adalah menyerahkan semua kekuatan kita untuk diorganisir oleh Allah. Untuk percaya sepenuh-sepenuhnya kepada arahan-Nya.
Berbagi adalah bertransaksi dengan Allah.
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS.Fathir:29)
============
Jangan lupa berbagi yaa, ada banyak yang memerlukan uluran tangan kita, teman-teman bisa klik link-link ini :
www.dompetdhuafa.org
donasi.dompetdhuafa.org
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”
#JanganTakutBerbagi
#SayaBerbagiSayaBahagia