Minggu, 31 Maret 2019

POLEMIK PEDAGANG KAKI LIMA, KEBERSIHAN DAN KEDISIPLINAN

Sebenarnya saya mau menulis artikel ini semenjak awal tahun. Tapi memang rencana hanya rencana kalau tidak ada aksinya. 

Alhamdulillah hari ini memaksakan diri untuk menulis. 

Alun-alun Bandung sudah disulap. Saya teringat berpuluh tahun yang lalu ketika tempat ini terkenal sebagai tempat yang super macet. 

Ketika SMA, untuk bisa membeli semangkok bakso di Palaguna Plaza saja saya dan teman-teman harus berjalan kaki dari pasar baru. Itu pun harus sambil ngekepin tas saking penuh nya jalanan takut kecopetan. Syukur masih remaja ya, belum kenal encok dan pegel-pegel, lalu kesemutan dan tidak bisa jalan. 😂😂

Sepuluh tahun kemudian, tak ada perubahan berarti. Kemacetan, semrawut, ditambah pedagang kaki lima menghalangi.

Ngomong-ngomong soal pedagang kaki lima. Akutuh suka kesel. Kenapa sih, harus jualan di pinggir jalan? Apa nggak ada tempat jualan lain?

Lalu masa keemasan Kota Bandung menghampiri. Tak disangka alun-alun kota Bandung bisa disulap, indaaaaah... Tak ada kemacetan, rapi, bersih, disiplin, dan tentu tak ada pedagang kaki lima. 

Hmmm Diba, gitu amat ya  sama pedagang kaki lima 😅

Lalu, hati nurani saya kemudian terpanggil melihat suasana di Basemen Alun-alun Bandung. Ketika kami memarkirkan motor, dan kami berjalan menuju taman alun-alun yang sangat indah. 

Banyak sekali pedagang kaki lima di sana. Entah berapa jumlahnya, puluhan? Ratusan? Aaah saya tidak hitung. 

Namun ini membuat saya kembali ke zaman perkuliahan, tepatnya di mata kuliah psikodiagnostika ix, BRAIN DAMAGE

Didapatkan banyak fakta, bahwa orang-orang yang menghabiskan banyak waktunya di basement akan sering menghirup gas karbon monoksida. 

Karbon monoksida, rumus kimia CO, adalah gas yang tak berwarna, tak berbau, dan tak berasa. Ia terdiri dari satu atom karbon yang secara kovalen berikatan dengan satu atom oksigen. Dalam ikatan ini, terdapat dua ikatan kovalen dan satu ikatan kovalen koordinasi antara atom karbon dan oksigen. Wikipedia

Dari sebuah studi yang dilakukan di Amerika serikat, diketahui bahwa terdapat 20.000 kunjungan ke unit gawat darurat yang disebabkan keracunan karbon monoksida.

Pada sebuah artikel di laman online tirto.id, diceritakan mengenai orang-orang yang berusaha membunuh diri dengan gas karbon mobil sisa. 
Sebuah penelitian oleh Dominic T.S Lee, dkk (2002) mengatakan bahwa 18% dari usaha bunuh diri pada kurun 1999-2000 di Hongkong dilakukan dengan metode ini. Begitu juga fenomena yang sama terjadi di Korea (Young-Rim, 2014). 

Dalam mata kuliah Psikodiagnostika IX dikatakan, terlalu sering menghirup gas monoksida akan menyebabkan penyakit yang dinamakan Brain damage, istilah Indonesianya dalah kerusakan otak, yang mana akan berisiko kematian. Keracunan Monoksida ini sulit dideteksi karena akan merusak organ tubuh secara perlahan.

Namun, tanpa berusaha menjatuhkan, saya mendapatkan lagi sebuah artikel yang menyebutkan cara menghindar dari keracunan gas monoksida ini dengan membangun ventilasi yang cukup bagi ruangan. saya sangat berharap tempat itu sudah disediakan ventilasi yang cukup. 

Namun, saran saya. Pedagang kami lima memang mengganggu, tetapi apakah tidak lebih bijak apabila isu kemanusiaan lebih diangkat daripada isu kebersihan dan kedisiplinan? 

Wallahua'lam bish shawab






1 komentar:

  1. Akupun yang lebih sering jadi pedestrian, sering merasa 'tercederai'haknya untuk jalan aman dan nyaman, karena trotoar penuh dengan pedagang kaki lima. Namun, berpikir kembali kalau mereka sedang berjuang mencari nafkah. Jadi ga misuh-misuh, hihihi...semoga ya ke depannya, ga cuma alun2 Bandung yanh disulap, tempat-tempat lain pun bisa memberi ruang yang baik dan sehat untuk para pedagang,sehingga para pejalan kaki seperti aku lebih nyaman berjalan menikmati kota, hehehe

    BalasHapus

POLEMIK PEDAGANG KAKI LIMA, KEBERSIHAN DAN KEDISIPLINAN

Sebenarnya saya mau menulis artikel ini semenjak awal tahun. Tapi memang rencana hanya rencana kalau tidak ada aksinya.  Alhamdulillah ...